Akankah Agama
Akan Tersingkir Dari Hidup Manusia?
Harvey Cox seorang asisten professor of
Theology and Culture di Andover Newton Theological School, Massachusetts dalam
bukunya yang sangat terkenal THE SECULAR
CITY: A Celebration of its liberties and an invitation to its discipline
ditulis pada tahun 1965 menyatakan bahwa: “The age of the secular city, the epoch whose
ethos is quickly spreading into every corner of the globe, is an age of “no
religion at all”
(1965:3). Anggapan seperti ini hampir
mewarnai semua para pemikir sosial seperti yang diungkapkan oleh Norris dan
Inglehart:
Para pemikir sosial terkemuka abad ke-19—Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber,
Karl Marx dan Sigmund Freud—yakin bahwa agama perlahan-lahan akan pudar dan
tidak begitu penting perannya bersamaan dengan makin majunya masyarakat
industri (2009:3).
C. Wright Mills salah satu contoh ilmuwan sosial
yang dengan sangat yakin bahwa kemajuan dunia, proses sekularisasi akan
meminggirkan bahkan mematikan peran agama dalam kehidupan masyarakat. Dalam bukunya The Sociological Imagination Mills berpendapat bahwa:
Dunia pernah dipenuhi dengan yang sakral —dalam
pemikiran, praktik, dan bentuk kelembagaan.
Setelah reformasi dan renaisans, kekuatan-kekuatan modernisasi menyapu
dunia, dan sekularisasi, sebagai proses historis yang mengikutinya, memperlemah
dominasi dari yang-sakral. Pada
waktunya, yang-sakral
akan sepenuhnya menghilang, kecuali mungkin dalam wilayah pribadi (Norris dan Inglehart 2009:3).
Namun seiring waktu
berjalan, zaman berganti, ramalan-ramalan para ilmuwan sosial tersebut tidak
saluruhnya benar bahkan muncul fenomena sebaliknya bahwa peran agama menjadi
sangat penting di dunia pasar. Patricia
Aburdene dalam bukunya Megatrends 2010 memuat beberapa data tentang bangkitnya
agama di Amerika di sebuah negara dimana sekularisasi mengambil tempat cukup
signifikan namun pada kenyataannya pengaruh agama tidak semakin redup justru
sebaliknya agama memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan orang
Amerika. Survei Gallup pada tahun 2004 menemukan bahwa 90 persen warga Amerika
Serikat percaya pada Tuhan; angka itu melompat ke-95 persen ... (Aburdene
2010:6). Pada tahun 1994 orang-orang
Gallub bertanya kepada masyarakat Amerika Serikat apakah mereka merasakan kebutuhan
untuk mengalami perkembangan spiritual.
Hanya 20 persen mengiyakan.
Kembali di tahun 1999 pertanyaan yang sama diajukan dan mengejutkan, 78
persen mengiyakan. Pertambahan 58% hanya
dalam waktu lima tahun (Aburdene 2010:7).
Sekitar 16,5 juta orang mempraktikkan yoga di AS pada tahun 2005 naik
43% dibanding pada tahun 2002. Pada
tahun 1998 Shambhala Mountain Center di Colorado yang memberikan layanan
program yoga dan meditasi menerima 1342 pengunjung pada tahun 2003 angka
tersebut mencapai 15.000. (Aburdene 2010:7).
Kekuatan spiritualitas di masa-masa penuh ketidakpastian 78%
orang berusaha mencari semangat tambahan.
Meditasi dan Yoga berjaya. Keberadaan TUHAN tumpah ruah ke dalam dunia
bisnis.
Kenyataan seperti tersebut di atas maka mau tidak mau memaksa beberapa
ilmuwan sosial untuk merevisi kembali tesis mereka tentang surutnya peran agama
dalam dunia masyarakat di tengah-tengah maraknya sekularisasi dunia. Salah satu contoh adalah Peter L. Berger,
semakin populernya kehadiran gereja di Amerika Serikat, munculnya spiritualitas
New Age di Eropa Barat, berkembangnya gerakan fundamentalis dan partai
keagamaan di dunia Muslim, bangkitnya kaum evangelis di Amerika Latin telah
mendorong Peter L. Berger salah satu pendukung utama teori sekularisasi menarik
kembali klaim-klaim awalnya:
My point is that the assumption that we live in a secularized world is
false. The world today, with some exceptions to which I
will come presently, is as furiously religious as it ever was, and in some
places more so than ever. This means
that a whole body of literature by historians and social scientists loosely
labeled “secularization theory” is essentially mistaken (Berger 1999:2).
Rodney
Stark dalam artikelnya yang sangat provokatif berjudul Secularization, R.I.P.
dengan mengutip Berger yang diterbitkan dalam Christian Century (1997:974):
I think what I and most other sociologists of religion wrote
in the 1960s about secularization was a mistake. Our underlying argument was
that secularization and modernity go hand in hand. With more modernization
comes more secularization. It wasn't a crazy theory. There was some evidence
for it. But I think it's basically wrong. Most of the world today is certainly
not secular. It's very religious (Stark 1999:270).
Kemudian
Stark menyimpulkan: “After nearly three
centuries of utterly failed prophecies and misrepresentations of both present
and past, it seems time to carry the secularization doctrine to the graveyard
of failed theories, and there to whisper "requiescat in pace."”
(1999:270). Agama, disukai atau tidak,
tetap menjadi roh penghidup zaman dengan manifestasinya masing-masing.
Buku yang ditulis The Noise of Solemn Assemblies (1961);
Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (1963); The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966) with Thomas Luckmann; The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1967);
A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural (1969).
Dunia sekarang ini dengan beberapa pengecualian, ... Amat sangat religius
sebagaimana sebelumnya, dan di beberapa wilayah bahkan lebih religius ketimbang
sebelumnya. Hal ini berarti bahwa
keseluruhan kepustakaan oleh para sejarawan dan ilmuwan sosial yang secara
longgar disebut teori sekularisasi pada dasarnya salah.