Senin, 03 Agustus 2015

           MUHAMMADIYAH DAN KEMAJUAN INDONESIA

Pada Muktamar Muhammadiyah kali ini mengangkat tema Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan.  Tema ini tentunya bukan hanya jargon yang akan dicapai di depan tetapi Muhammadiyah sudah membuktikan kiprahnya dalam mendorong terjadinya kemajuan-kemajuan di Indonesia dalam bidang politik, pendidikan, kesehatan bahkan dalam bidang ekonomi.  Misalnya penelitian Irwan Abdullah di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah  yang dilakukan di antara pengusaha di Jatinom, mereka adalah para penganut Islam yang berpaham modernis progresif (Muhammadiyah) yang telah berhasil menafsir kembali paham keagamaannya menjadi paham keagamaan yang reformis, sehingga sangat jelas mendorong pada proses usaha mereka.  Meskipun diakui bahwa agama bukan satu-satunya faktor ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan.  Dalam kesimpulannya Abdullah menuliskan bahwa:

Keberhasilan kaum pedagang Muslim tidak hanya berkaitan dengan ketaatan agama, beberapa faktor lain berperan cukup penting. Agama memiliki peranan penting di dalam proses pembaharuan pemikiran yang mengarahkan perilaku ekonomi pedagang di satu pihak dan mempengaruhi cara penduduk menerima kegiatan perdagangan (dengan prinsip-prinsip ekonomi yang terkait) sebagai bagian dari kehidupan mereka. Agama dalam hal ini membentuk dasar sosial budaya yang memungkinkan kegiatan ekonomi berlangsung. Namun demikian, perkembangan usaha dagang selanjutnya sangat ditentukan oleh struktur politik lokal dimana berbagai kekacauan telah menghambat kegiatan dagang dan sebaliknya iklim politik yang baik dapat menjadi pendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi. Perkembangan perdagangan dan kemajuan-kemajuan pesat yang dicapai oleh pedagang Muslim sesungguhnya lebih ditentukan oleh peluang-peluang ekonomi yang muncul setelah tahun 1970-an. Demikian pula perubahan-perubahan dalam bidang pertanian di wilayah Jatinom pada tahun 1980-an telah memberikan dampak yang paling penting dari seluruh tahap perkembangan ekonomi kota (1994:197).
Fungsi agama dalam masyakat Jatinom sebagai dunia simbolis yang menegaskan identitas kelompok sehingga dapat memperkuat rasa solidaritas antar sesama anggota (Abdullah 1994:196). Persamaan identitas yang kemudian menumbuhkan ikatan identitas sosial yang kokoh di antara kelompok telah menjadi dasar yang penting dalam membangun relasi bisnis antara anggota satu dengan anggota lainnya.


Hubungan ini dianggap sebagai basis yang paling penting di dalam menggerakkan perdagangan karena sumber daya ekonomi mengalir dari satu orang ke orang lain di dalam kelompok keagamaan. Pengelompokan dagang berdasarkan agama ini sekaligus memiliki kekuatan yang besar di dalam menghadapi tekanan-tekanan dan gangguan-gangguan dari luar yang dapat menghancurkan kelompok (Abdullah 1994:196).

Selasa, 28 Juli 2015

Akankah Agama Akan Tersingkir Dari Hidup Manusia?


Harvey Cox seorang asisten professor of Theology and Culture di Andover Newton Theological School, Massachusetts dalam bukunya yang sangat terkenal THE SECULAR CITY: A Celebration of its liberties and an invitation to its discipline ditulis pada tahun 1965 menyatakan bahwa: “The age of the secular city, the epoch whose ethos is quickly spreading into every corner of the globe, is an age of “no religion at all” (1965:3).  Anggapan seperti ini hampir mewarnai semua para pemikir sosial seperti yang diungkapkan oleh Norris dan Inglehart:
Para pemikir sosial terkemuka abad ke-19—Auguste Comte,  Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx dan Sigmund Freud—yakin bahwa agama perlahan-lahan akan pudar dan tidak begitu penting perannya bersamaan dengan makin majunya masyarakat industri (2009:3).
C. Wright Mills salah satu contoh ilmuwan sosial yang dengan sangat yakin bahwa kemajuan dunia, proses sekularisasi akan meminggirkan bahkan mematikan peran agama dalam kehidupan masyarakat.  Dalam bukunya The Sociological Imagination Mills berpendapat bahwa:
Dunia pernah dipenuhi dengan yang sakral —dalam pemikiran, praktik, dan bentuk kelembagaan.  Setelah reformasi dan renaisans, kekuatan-kekuatan modernisasi menyapu dunia, dan sekularisasi, sebagai proses historis yang mengikutinya, memperlemah dominasi dari yang-sakral.  Pada waktunya, yang-sakral akan sepenuhnya menghilang, kecuali mungkin dalam wilayah pribadi (Norris dan Inglehart 2009:3).
Namun seiring waktu berjalan, zaman berganti, ramalan-ramalan para ilmuwan sosial tersebut tidak saluruhnya benar bahkan muncul fenomena sebaliknya bahwa peran agama menjadi sangat penting di dunia pasar.  Patricia Aburdene dalam bukunya Megatrends 2010 memuat beberapa data tentang bangkitnya agama di Amerika di sebuah negara dimana sekularisasi mengambil tempat cukup signifikan namun pada kenyataannya pengaruh agama tidak semakin redup justru sebaliknya agama memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan orang Amerika.  Survei Gallup pada tahun 2004 menemukan bahwa 90 persen warga Amerika Serikat percaya pada Tuhan; angka itu melompat ke-95 persen ... (Aburdene 2010:6).  Pada tahun 1994 orang-orang Gallub bertanya kepada masyarakat Amerika Serikat apakah mereka merasakan kebutuhan untuk mengalami perkembangan spiritual.  Hanya 20 persen mengiyakan.  Kembali di tahun 1999 pertanyaan yang sama diajukan dan mengejutkan, 78 persen mengiyakan.  Pertambahan 58% hanya dalam waktu lima tahun (Aburdene 2010:7).  Sekitar 16,5 juta orang mempraktikkan yoga di AS pada tahun 2005 naik 43% dibanding pada tahun 2002.  Pada tahun 1998 Shambhala Mountain Center di Colorado yang memberikan layanan program yoga dan meditasi menerima 1342 pengunjung pada tahun 2003 angka tersebut mencapai 15.000. (Aburdene 2010:7).  Kekuatan spiritualitas di masa-masa penuh ketidakpastian 78% orang berusaha mencari semangat tambahan.  Meditasi dan Yoga berjaya.  Keberadaan TUHAN tumpah ruah ke dalam dunia bisnis.
Kenyataan seperti tersebut di atas maka mau tidak mau memaksa beberapa ilmuwan sosial untuk merevisi kembali tesis mereka tentang surutnya peran agama dalam dunia masyarakat di tengah-tengah maraknya sekularisasi dunia.  Salah satu contoh adalah Peter L. Berger,[1] semakin populernya kehadiran gereja di Amerika Serikat, munculnya spiritualitas New Age di Eropa Barat, berkembangnya gerakan fundamentalis dan partai keagamaan di dunia Muslim, bangkitnya kaum evangelis di Amerika Latin telah mendorong Peter L. Berger salah satu pendukung utama teori sekularisasi menarik kembali klaim-klaim awalnya:
My point is that the assumption that we live in a secularized world is false.  The world today, with some exceptions to which I will come presently, is as furiously religious as it ever was, and in some places more so than ever.  This means that a whole body of literature by historians and social scientists loosely labeled “secularization theory” is essentially mistaken (Berger 1999:2).[2]
Rodney Stark dalam artikelnya yang sangat provokatif berjudul Secularization, R.I.P.[3] dengan mengutip Berger yang diterbitkan dalam Christian Century (1997:974):
I think what I and most other sociologists of religion wrote in the 1960s about secularization was a mistake. Our underlying argument was that secularization and modernity go hand in hand. With more modernization comes more secularization. It wasn't a crazy theory. There was some evidence for it. But I think it's basically wrong. Most of the world today is certainly not secular. It's very religious (Stark 1999:270).
Kemudian Stark menyimpulkan: “After nearly three centuries of utterly failed prophecies and misrepresentations of both present and past, it seems time to carry the secularization doctrine to the graveyard of failed theories, and there to whisper "requiescat in pace."” (1999:270).  Agama, disukai atau tidak, tetap menjadi roh penghidup zaman dengan manifestasinya masing-masing.




[1]Buku yang ditulis The Noise of Solemn Assemblies (1961); Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (1963); The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966) with Thomas Luckmann; The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1967); A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural (1969).
[2]Dunia sekarang ini dengan beberapa pengecualian, ... Amat sangat religius sebagaimana sebelumnya, dan di beberapa wilayah bahkan lebih religius ketimbang sebelumnya.  Hal ini berarti bahwa keseluruhan kepustakaan oleh para sejarawan dan ilmuwan sosial yang secara longgar disebut teori sekularisasi pada dasarnya salah.
[3]Diterbitkan dalam Sociology of Religion, Vol. 60, No. 3 (Autumn, 1999), pp. 249-273.