MUHAMMADIYAH DAN KEMAJUAN INDONESIA
Pada Muktamar Muhammadiyah kali ini mengangkat tema Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan. Tema ini tentunya bukan hanya jargon yang akan dicapai di depan tetapi Muhammadiyah sudah membuktikan kiprahnya dalam mendorong terjadinya kemajuan-kemajuan di Indonesia dalam bidang politik, pendidikan, kesehatan bahkan dalam bidang ekonomi. Misalnya penelitian Irwan Abdullah di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah
yang dilakukan di antara pengusaha di Jatinom,
mereka adalah para penganut Islam yang berpaham modernis progresif
(Muhammadiyah) yang telah berhasil menafsir kembali paham keagamaannya menjadi
paham keagamaan yang reformis, sehingga sangat jelas mendorong pada proses
usaha mereka. Meskipun diakui bahwa agama bukan satu-satunya
faktor ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan. Dalam kesimpulannya Abdullah menuliskan
bahwa:
Keberhasilan
kaum pedagang Muslim tidak hanya berkaitan dengan ketaatan agama, beberapa
faktor lain berperan cukup penting. Agama memiliki peranan penting di dalam
proses pembaharuan pemikiran yang mengarahkan perilaku ekonomi pedagang di satu
pihak dan mempengaruhi cara penduduk menerima kegiatan perdagangan (dengan
prinsip-prinsip ekonomi yang terkait) sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Agama dalam hal ini membentuk dasar sosial budaya yang memungkinkan kegiatan
ekonomi berlangsung. Namun demikian, perkembangan usaha dagang selanjutnya
sangat ditentukan oleh struktur politik lokal dimana berbagai kekacauan telah
menghambat kegiatan dagang dan sebaliknya iklim politik yang baik dapat menjadi
pendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi. Perkembangan perdagangan dan
kemajuan-kemajuan pesat yang dicapai oleh pedagang Muslim sesungguhnya lebih
ditentukan oleh peluang-peluang ekonomi yang muncul setelah tahun 1970-an.
Demikian pula perubahan-perubahan dalam bidang pertanian di wilayah Jatinom
pada tahun 1980-an telah memberikan dampak yang paling penting dari seluruh
tahap perkembangan ekonomi kota (1994:197).
Fungsi
agama dalam masyakat Jatinom sebagai dunia
simbolis yang menegaskan identitas kelompok sehingga dapat memperkuat rasa
solidaritas antar sesama anggota (Abdullah 1994:196). Persamaan identitas yang
kemudian menumbuhkan ikatan identitas sosial yang kokoh di antara kelompok
telah menjadi dasar yang penting dalam membangun relasi bisnis antara anggota
satu dengan anggota lainnya.
Hubungan
ini dianggap sebagai basis yang paling penting di dalam menggerakkan
perdagangan karena sumber daya ekonomi mengalir dari satu orang ke orang lain
di dalam kelompok keagamaan. Pengelompokan dagang berdasarkan agama ini
sekaligus memiliki kekuatan yang besar di dalam menghadapi tekanan-tekanan dan
gangguan-gangguan dari luar yang dapat menghancurkan kelompok (Abdullah
1994:196).